Sebelum menutup akhir tahun, Avatar ecek-ecek berkelana ke negeri tanah.
Dalam pergaulannya, ia pun berguru kepada raja pengendali tanah, raja
yang mengerti bahasa binatang sejak ia masih seorang anak yatim yang
sehari-hari menggembalakan kuda, kerbau dan sapi, juga mengerti bahasa
tanaman dan pepohonan, karena sejak ia berumur 12 tahun, telah membantu
neneknya berladang, sebagai tulang punggung keluarga. "Kawanan ternak
ini, yang ini bosnya, dan yang ini yang paling bandel, dan yang ini yang
paling senang bila ditunggangi," jelasnya kepada sekelompok petani
Samosir. Pada puncak kearifannya, sang raja berkata: "Pada hakikatnya,
tidak ada tanah yang tandus, hanya manusialah yang harus memahami
bagaimana perlakuan yang sesuai terhadap jenis-jenis tanah yang
ditanaminya," ujarnya yang kala itu saat masih memimpin langsung jutaan
petani. "Kalau bisa pohon-pohon sawit itu menjerit, sudah menjerit
pohon-pohon sawit itu, sudah 2 tahun tak dirawat, padahal dia butuh ini
dan itu," cetusnya di sebuah pekan di kota Pematang Siantar. Begitulah
butiran-butiran hikmah yang berpendar sepanjang musim dingin. Saat
matahari jatuh pada rasi Aquarius, anak muda kita kemudian berkelana ke
negeri air. Berguru dengan raja pengendali air. Pada puncak makrifatnya
raja pengendali air berkata: "Kita harus selaras dengan alam, bukan
berhadapan dengan alam. Air tidak saja komitmen, karena komitmen saja
tidaklah cukup, karena air juga konsisten dengan pasang surutnya.
Ikutilah pasang surutnya, seimbanglah dengan naik turunnya, jangan
melawan arus," papar raja pengendali air usai berziarah di pulau
Penyengat, Kepri. Memang, sejak 99 tahun yang lalu, negeri air dan
negeri tanah telah dieksploitasi negeri api, negeri yang selalu
mengobarkan peperangan dan menjual slogan, kertas-kertas dan senjata sebagai
pendapatan utama negerinya.


No comments:
Post a Comment