Cari Informasi

Saturday, September 21, 2013

Avatar Ecek-ecek, Raja Pengendali Tanah dan Raja Pengendali Air



Sebelum menutup akhir tahun, Avatar ecek-ecek berkelana ke negeri tanah. Dalam pergaulannya, ia pun berguru kepada raja pengendali tanah, raja yang mengerti bahasa binatang sejak ia masih seorang anak yatim yang sehari-hari menggembalakan kuda, kerbau dan sapi, juga mengerti bahasa tanaman dan pepohonan, karena sejak ia berumur 12 tahun, telah membantu neneknya berladang, sebagai tulang punggung keluarga. "Kawanan ternak ini, yang ini bosnya, dan yang ini yang paling bandel, dan yang ini yang paling senang bila ditunggangi," jelasnya kepada sekelompok petani Samosir. Pada puncak kearifannya, sang raja berkata: "Pada hakikatnya, tidak ada tanah yang tandus, hanya manusialah yang harus memahami bagaimana perlakuan yang sesuai terhadap jenis-jenis tanah yang ditanaminya," ujarnya yang kala itu saat masih memimpin langsung jutaan petani. "Kalau bisa pohon-pohon sawit itu menjerit, sudah menjerit pohon-pohon sawit itu, sudah 2 tahun tak dirawat, padahal dia butuh ini dan itu," cetusnya di sebuah pekan di kota Pematang Siantar. Begitulah butiran-butiran hikmah yang berpendar sepanjang musim dingin. Saat matahari jatuh pada rasi Aquarius, anak muda kita kemudian berkelana ke negeri air. Berguru dengan raja pengendali air. Pada puncak makrifatnya raja pengendali air berkata: "Kita harus selaras dengan alam, bukan berhadapan dengan alam. Air tidak saja komitmen, karena komitmen saja tidaklah cukup, karena air juga konsisten dengan pasang surutnya. Ikutilah pasang surutnya, seimbanglah dengan naik turunnya, jangan melawan arus," papar raja pengendali air usai berziarah di pulau Penyengat, Kepri. Memang, sejak 99 tahun yang lalu, negeri air dan negeri tanah telah dieksploitasi negeri api, negeri yang selalu mengobarkan peperangan dan menjual slogan, kertas-kertas dan senjata sebagai pendapatan utama negerinya.

No comments:

Post a Comment