Cari Informasi

Saturday, September 21, 2013

Kekayaan Raja Aditra Mahakarya yang Sontoloyo

Sebuah cerita imajinatif dari entitas alam entah berantah, dengan delik dan setting waktu dan tempat yang mungkin suprarasional, dengan alur yang melompat-lombat, serta dengan gaya bahasa asal-asalan. Jika terdapat nama, tempat, alur cerita yang mirip atau sama, maaf, itu hanya sekedar kebetulan walau pun mungkin ada sedikit unsur kesengajaan. Isi cerita di luar tanggung jawab tukang yang nge-go-blog, petinggi alam maya, netizen dan tokoh-tokoh imajinatif yang disebut-sebut di dalamnya. Tidak seperti yang dituduhkan sebagian pihak bahwa legenda yang katanya fenomenal ini sudah sangat kesohor dan menginspirasi banyak pihak. Itu perlu dibantah. Kalau ada yang mengutip semua atau sebagian isi cerita ini walau pun tanpa menyebutkan sumber, biarin saja. Tetap yakin pada pepatah: "Kekayaan Aditra Mahakarya datang dari penulisnya, bukan dari hasil copy past dan mendelete sumber..."

Cafe Elegante Sultaniyat Begin


CAFE ELEGANTE BEGIN: Syahdan (bukan nama orang). Pada suatu ketika yang tidak sempat tercatat dalam sejarah, tersebutlah sebuah warung kopi yang sepi, nama saja cafe, tapi yeaaah, kalau dilihat, agak gimana ya... gitulah pokoknya. Cafe itu unik. Selain dilengkapi dengan mesjid kecil yang nyaris menyerupai surau, juga menerima barter barang. Asal cocok, sepakat harga, jadi barang tu! Setiap hari pengunjungnya hanya baru punya dua pelanggan setia: Cungkring dan Gemblung. Nama aslinya pun penulis belum tahu. Rupanya, dua orang ini pun baru saling kenal, sehingga bercakap pun masih bertuan berhamba, bertatah berpetitih. masih jaimlah istilahnya. "Tuan Cungkring. Ajarkanlah kepada hamba apa itu hikmat kebijaksanaan, agar daku beroleh makrifat," kata Gemblung. "Ketahuilah Tuan Gemblung. Setiap peristiwa ada isyarat, setiap isyarat ada makna, dibalik makna ada rahasia, di dalam rahasia ada hikmat," papar Cukring. "Dengarkanlah aku, sahabatku. Kehidupan selalu dipenuhi dengan kesulitan, hanya beda-beda bentuknya. DIA memberikan kesulitan supaya memisahkan teman sejati di antara manusia yang pernah tuan kenal. Sabarlah, tuan pasti diberikan yang terbaik. Tuan harus menyadari kefakiran, kelemahan dan kekurangan tuan di hadapan Nya. Berjalanlah tuan, agar tuan semakin hampir. Wallahu a'lam." jelas Cungkring menambahi. "Terima kasih Tuan, hamba suka sekali kata-kata tuan..." ucap Gemblung.

Gemblung itu Mantan Bos, Tahu Nggak Klen?


GEMBLUNG ITU MANTAN BOS. Kehidupan menjadi inspirasi bagi kehidupan itu sendiri. Kita memang harus mendengar banyak cerita yang mengandung pelajaran dari orang-orang terdahulu. Misalnya tentang Si gemblung yang selalu meminta pengakuan kepada setiap orang bahwa dia adalah seorang bos, lalu kemudian waktu berlalu, ia pun melihat bahwa itu hanya keakuan yang sama sekali tidak dapat dipertahankannya, bahkan siapa pun yang digilas sang waktu, ia hanya akan menjadi seorang yang kesepian. Gemblung selalu merasa eksis dengan perusahaannya yang ia sebut-sebut perusahaan besar dan disegani, tetapi ia terlena, dan kemudian berlalu waktu demi waktu, ketika ia terhenyak saat meminta pembenaran bahwa perusahaannya masih eksis seperti dahulu. Orang-orang hanya berkata, "Kalau saya boleh tahu, perusahaan apaan itu ya Pak, kayaknya baru ini saya dengar." Kebenaran tidak butuh pembenaran...

Anugerah dan Tanggung Jawab yang terselip di dalamnya





Suatu hari, Peter Manurung berkata kepada Mary Sinambela, wartawati yang cantik selangit tembus itu. "Ito, kata dosenku, semakin Tuhan menganugerahi kita kemampuan yang lebih besar, maka tanggung jawab kita juga akan semakin besar." Mary memandang aneh kepada Peter. Dahinya mengernyit keheranan. "Ah masa? Setahuku, yang ngomong itu bukan dosenmu, tapi oppungmu. begitu yg kutonton dalam film Spiderman. ingat-ingatlah dulu lah Amang." (Abah Jufri, Facebook, 9 Februari 2014)

Dasar Hukum Menjadi Batman

"Wahai pemuda gembala, waktu kita telah dekat." Kata si pejalan kaki sambil mengelus-elus jenggotnya yang tak terurus. "Para joker dan anak buahnya telah mengobrak-abrik kota Gotham, tepatnya di kecamatan Amplas kelurahan Harjosari II... ayolah Bang! apalagi, pakailah costum superhero mu itu." Pemuda Gembala menoleh sejenak ke arah si pejalan kaki, kemudian memandang lepas ke luar jendela sambil menghela nafas berat. "Batman belum dibutuhkan rakyat di negeri ini, apalagi akhirnya nanti diketahui identitas kita, pasti dunia akan menertawakan," cetus pemuda gembala lirih. Si pejalan kaki bingung, tanpa buang-buang waktu ia bertanya. "Emangnya kenapa, Bang?" Bukannya menjawab Pemuda gembala malah balik bertanya. "Coba kamu jawab, apa pernah batman itu orang bermarga? Apa boleh? Kalau ada dan boleh, tunjukkan dasar hukumnya." Keduanya lama terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.... (Abah Jufri, Facebook, 13 Februari 2014)

Andai Mencalonkan Diri, Wiro Sableng Bakal Jadi Presiden Pilihan

Setelah lama tak kelihatan, kembali Gemblung dan Cungkring bertemu di warkop Elegante Sultaniyat yang fenomenal itu. "Ehm, Kring, kalo boleh tau, siapa tokoh yang paling berkesan dan berpengaruh dalam menegakkan keadilan dan membasmi kejahatan." Seorang pelayan perempuan berseragam merah tampak tersenyum setelah menghidangkan teh tarek panas. Gemblung balas tersenyum. "Thanks berat Kak...." Gemblung baru teringat kepada Cungkring dan kembali mengalihkan perhatiannya pada pertanyaan pemuda kurus berhati lurus itu. "Oh iya, apa tadi kau bilang. Soal tokoh ya..." Gemblung seperti sedang mengumpulkan ingatannya. "Kalau aku ya Kring. Dari aku masih SD sampai sekarang aku masih nge-fans berat sama Wira Saksana, pemuda tangguh bersenjatakan kampak bermata dua di pinggangnya. Andai saja batu pembalik waktu membawa dia ke sini, ke negeri kita ini, rasaku sudah cocok kali dia tu jadi presiden." Cungkring mencoba mengorek keterangan mengenai profil si tokoh tersebut. Sejauh mana kamu mengenal calon pemimpin yang sedang kamu usung itu, mana tau aku bisa jadi tim suksesnya kalo sevisi dan misi denganku," tukas Cungkiring. Gemblung tampak bersemangat. "Wow. Pertanyaan yang bagus. Dia punya jurus yang biasa digunakan mengalahkan orang-orang dari dunia hitam: Orang gila menepuk lalat, membuka jendela memanah rembulan, kunyuk melempar buah, pukulan angin punyuh dan paling menyilaukan tentu saja, pukulan sinar matahari. Dan, dia Kring, ke mana dia pergi di situ ada Anggini, Puti Andini, Ratu Duyung, Akiko Bessho dan..." "Cukup...cukup Blung. Itu mah Wiro Sableng, Blung, calon presidenku juga, hahaha... sama kita ya... tapi hati2, kalau Pangeran Matahari ikut mencalonkan diri juga bisa gawat dunia persilatan..."(Abah Jufri, Facebook, 18 Februari 2014)

Avatar Ecek-ecek, Raja Pengendali Tanah dan Raja Pengendali Air



Sebelum menutup akhir tahun, Avatar ecek-ecek berkelana ke negeri tanah. Dalam pergaulannya, ia pun berguru kepada raja pengendali tanah, raja yang mengerti bahasa binatang sejak ia masih seorang anak yatim yang sehari-hari menggembalakan kuda, kerbau dan sapi, juga mengerti bahasa tanaman dan pepohonan, karena sejak ia berumur 12 tahun, telah membantu neneknya berladang, sebagai tulang punggung keluarga. "Kawanan ternak ini, yang ini bosnya, dan yang ini yang paling bandel, dan yang ini yang paling senang bila ditunggangi," jelasnya kepada sekelompok petani Samosir. Pada puncak kearifannya, sang raja berkata: "Pada hakikatnya, tidak ada tanah yang tandus, hanya manusialah yang harus memahami bagaimana perlakuan yang sesuai terhadap jenis-jenis tanah yang ditanaminya," ujarnya yang kala itu saat masih memimpin langsung jutaan petani. "Kalau bisa pohon-pohon sawit itu menjerit, sudah menjerit pohon-pohon sawit itu, sudah 2 tahun tak dirawat, padahal dia butuh ini dan itu," cetusnya di sebuah pekan di kota Pematang Siantar. Begitulah butiran-butiran hikmah yang berpendar sepanjang musim dingin. Saat matahari jatuh pada rasi Aquarius, anak muda kita kemudian berkelana ke negeri air. Berguru dengan raja pengendali air. Pada puncak makrifatnya raja pengendali air berkata: "Kita harus selaras dengan alam, bukan berhadapan dengan alam. Air tidak saja komitmen, karena komitmen saja tidaklah cukup, karena air juga konsisten dengan pasang surutnya. Ikutilah pasang surutnya, seimbanglah dengan naik turunnya, jangan melawan arus," papar raja pengendali air usai berziarah di pulau Penyengat, Kepri. Memang, sejak 99 tahun yang lalu, negeri air dan negeri tanah telah dieksploitasi negeri api, negeri yang selalu mengobarkan peperangan dan menjual slogan, kertas-kertas dan senjata sebagai pendapatan utama negerinya.

Mimpi Si Cungkring yang Dianalisis



Dataran Tinggi Golan, 02-06-2022. Angin berhawa panas berdesir di telinga, membuat daun-daun pohon ghorgod bergerak-gerak malas.
"Revo...! Berhenti kataku!" Seru Raja Ilusioner ketika melihat sesosok remaja menyembulkan kepala dari balik rimbunnya dedaunan. Ia berusaha lari menjauh saat Raja Ilusioner mendekati pohon itu.
"Kau pengecut! Kau bukan ayahku! Kau hanya hologram yang tidak bisa kusentuh! Pergilah! Biar aku di sini, sampai tentara-tentara khalifah menemukanku." Teriak Revo sambil berlari tunggang-langgang.
Tiba-tiba Cungkring tersentak dari tidurnya. Rupanya baru jam setengah dua dini hari. Pagi-paginya, ia menceritakan kepada Gemblung mengenai mimpinya itu, di warkop (baca cafe, biar terdengar keren) Elegante yang keburu kesohor itu. "Begitulah ceritanya, Blung. Apa maksudnya itu?! Analisismu kan tajam soal yang begitu-begituan..." Cetus Cungkring sambil mengaduk-aduk kopi panas yang baru diletakkan di meja petak hitam itu. "Aiiih... tak usah serius kalilah kau mikirkannya itu, namanya pun mimpi. Botak pulak kepalamu nanti dibikinnya." Tukas Gemblung enteng seraya mengaut mancis biru yang terletak di depan Cungkring, di atas kotak rokok kretek. "Jangan lupa besok Kring! Kau jumpai Wak Man. Selo saja kau kutengok sudah dua tahun pengangguran. Sudah mau dia, katanya. Cak kau hubungi dia sore ini, jangan nanti tak mau aku membantu kawan kau bilang," tandas Gemblung. (Abah Jufri, Facebook, 02 Juni 2014)