
Setelah lama tak kelihatan, kembali Gemblung dan Cungkring bertemu di
warkop Elegante Sultaniyat yang fenomenal itu. "Ehm, Kring, kalo boleh
tau, siapa tokoh yang paling berkesan dan berpengaruh dalam menegakkan
keadilan dan membasmi kejahatan." Seorang pelayan perempuan berseragam
merah tampak tersenyum setelah menghidangkan teh tarek panas. Gemblung
balas tersenyum. "Thanks berat Kak...." Gemblung baru teringat kepada
Cungkring dan kembali mengalihkan perhatiannya pada pertanyaan pemuda
kurus berhati lurus itu. "Oh iya, apa tadi kau bilang. Soal tokoh ya..."
Gemblung seperti sedang mengumpulkan ingatannya. "Kalau aku ya Kring.
Dari aku masih SD sampai sekarang aku masih nge-fans berat sama Wira
Saksana, pemuda tangguh bersenjatakan kampak bermata dua di pinggangnya.
Andai saja batu pembalik waktu membawa dia ke sini, ke negeri kita ini,
rasaku sudah cocok kali dia tu jadi presiden." Cungkring mencoba
mengorek keterangan mengenai profil si tokoh tersebut. Sejauh mana kamu
mengenal calon pemimpin yang sedang kamu usung itu, mana tau aku bisa
jadi tim suksesnya kalo sevisi dan misi denganku," tukas Cungkiring.
Gemblung tampak bersemangat. "Wow. Pertanyaan yang bagus. Dia punya
jurus yang biasa digunakan mengalahkan orang-orang dari dunia hitam:
Orang gila menepuk lalat, membuka jendela memanah rembulan, kunyuk
melempar buah, pukulan angin punyuh dan paling menyilaukan tentu saja,
pukulan sinar matahari. Dan, dia Kring, ke mana dia pergi di situ ada
Anggini, Puti Andini, Ratu Duyung, Akiko Bessho dan..." "Cukup...cukup
Blung. Itu mah Wiro Sableng, Blung, calon presidenku juga, hahaha...
sama kita ya... tapi hati2, kalau Pangeran Matahari ikut mencalonkan
diri juga bisa gawat dunia persilatan..."(Abah Jufri, Facebook, 18 Februari 2014)
No comments:
Post a Comment